{"id":33,"date":"2026-06-13T14:47:49","date_gmt":"2026-06-13T12:47:49","guid":{"rendered":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/2026\/06\/13\/pemanasan-global-dipercepat-akibat-aktivitas-manusia\/"},"modified":"2026-06-13T14:50:21","modified_gmt":"2026-06-13T12:50:21","slug":"pemanasan-global-dipercepat-akibat-aktivitas-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/2026\/06\/13\/pemanasan-global-dipercepat-akibat-aktivitas-manusia\/","title":{"rendered":"Pemanasan global dipercepat akibat aktivitas manusia"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/\/id\/wp-content\/uploads\/shared\/iceberg-6966784_1280.jpg\" alt=\"Pemanasan global dipercepat akibat aktivitas manusia\" class=\"featured-image\" \/>&#8220;`html<\/p>\n<h1>Pemanasan global dipercepat akibat aktivitas manusia<\/h1>\n<p>Bumi menghangat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Antara 2016 dan 2025, suhu rata-rata global meningkat sebesar 1,26 derajat dibandingkan periode 1850-1900. Dari kenaikan ini, 1,24 derajat secara langsung disebabkan oleh aktivitas manusia. Pada 2025, pengaruh manusia terhadap iklim bahkan mendorong pemanasan hingga 1,37 derajat di atas tingkat pra-industri. Laju ini, yang mencapai 0,27 derajat per dasawarsa, merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat dalam catatan instrumen.<\/p>\n<p>Salah satu tanda paling mencolok dari percepatan ini adalah ketidakseimbangan energi Bumi. Fenomena ini mengukur jumlah panas tambahan yang ditahan planet ini, alih-alih memantulkannya kembali ke luar angkasa. Sejak periode 1976-1995, ketidakseimbangan ini telah lebih dari dua kali lipat, mengonfirmasi akumulasi panas yang cepat dalam sistem iklim.<\/p>\n<p>Samudra tidak luput dari dampaknya. Gelombang panas laut, yaitu periode di mana suhu air menjadi sangat tinggi, semakin sering terjadi. Antara 1991 dan 2025, jumlah hari yang terdampak oleh peristiwa ini telah lebih dari tiga kali lipat. Peristiwa-peristiwa ini mengganggu ekosistem laut dan mengancam keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p>Emisi gas rumah kaca, penyebab utama pemanasan ini, telah mencapai tingkat rekor sebesar 54,6 miliar ton setara CO\u2082 per tahun. Emisi ini, dengan menjebak panas di atmosfer, memperkuat perubahan iklim dan dampaknya.<\/p>\n<p>Kenaikan suhu disertai dengan transformasi besar lainnya. Es mencair, permukaan laut naik, dan fenomena cuaca ekstrem menjadi lebih sering dan lebih intens. Setiap tahun yang berlalu mengonfirmasi bahwa pengaruh manusia terhadap iklim kini menjadi faktor dominan. Tanpa pengurangan drastis emisi, tren ini diperkirakan akan terus berlanjut, dengan dampak yang semakin nyata bagi masyarakat dan ekosistem.<\/p>\n<p>&#8220;`<\/p>\n<hr>\n<h2>\u00c0 propos de nos sources<\/h2>\n<h3>\u00c9tude cit\u00e9e<\/h3>\n<p><strong>DOI\u00a0:<\/strong> <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.5194\/essd-18-3889-2026\" target=\"_blank\">https:\/\/doi.org\/10.5194\/essd-18-3889-2026<\/a><\/p>\n<p><strong>Titre\u00a0:<\/strong> Indicators of Global Climate Change 2025:  annual update of key indicators of the state   of the climate system and human influence<\/p>\n<p><strong>Revue : <\/strong> Earth System Science Data<\/p>\n<p><strong>\u00c9diteur : <\/strong> Copernicus GmbH<\/p>\n<p><strong>Auteurs : <\/strong> Piers M. Forster; Tristram Walsh; Chris Smith; William F. Lamb; Robin Lamboll; Christophe Cassou; Mathias Hauser; Zeke Hausfather; June-Yi Lee; Matthew D. Palmer; Karina von Schuckmann; Aim\u00e9e B. A. Slangen; Sophie Szopa; Blair Trewin; Jeongeun Yun; Nathan P. Gillett; Stuart Jenkins; H. Damon Matthews; Krishnan Raghavan; Aur\u00e9lien Ribes; Joeri Rogelj; Debbie Rosen; Xuebin Zhang; Myles Allen; Robbie M. Andrew; Chris Atkinson; Richard A. Betts; Antonio Bombelli; Samantha N. Burgess; Lijing Cheng; Helen E. Claxton; Pierre Friedlingstein; Thomas L. Fr\u00f6licher; Catia M. Domingues; Thomas Gasser; Catherine H. Gregory; Rachel M. Hoesly; Daniel Huppmann; Masayoshi Ishii; Christopher Kadow; Alexia Karwat; John Kennedy; Rachel E. Killick; Mahesh V. M. Kovilakam; Paul B. Krummel; Xin Lan; Jean-Fran\u00e7ois Lamarque; Aur\u00e9lien Lin\u00e9; Bel\u00e9n Mart\u00edn-M\u00edguez; Didier P. Monselesan; Colin Morice; Jens M\u00fchle; Pino Mussak; Glen P. Peters; Anna Pirani; Julia Pongratz; Matthew Rigby; Robert Rohde; Abhishek Savita; Sonia I. Seneviratne; Steven J. Smith; Ghassan Taha; Caterina Tassone; Peter Thorne; Christopher Wells; Luke M. Western; Guido R. van der Werf; Susan E. Wijffels; Marco Zecchetto; Junting Zhong; Xiao-Ye Zhang; Val\u00e9rie Masson-Delmotte; Panmao Zhai<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;`html Pemanasan global dipercepat akibat aktivitas manusia Bumi menghangat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Antara 2016 dan 2025, suhu rata-rata global meningkat sebesar 1,26 derajat dibandingkan periode 1850-1900. Dari kenaikan ini, 1,24 derajat secara langsung disebabkan oleh aktivitas manusia. Pada 2025, pengaruh manusia terhadap iklim bahkan mendorong pemanasan hingga 1,37 derajat di atas&hellip; <a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/2026\/06\/13\/pemanasan-global-dipercepat-akibat-aktivitas-manusia\/\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Pemanasan global dipercepat akibat aktivitas manusia<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,7],"tags":[],"class_list":["post-33","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lingkungan","category-manusia","entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34,"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33\/revisions\/34"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/theworldofclimatechange.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}